Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2012

Asmaraman Kho ping Ho


Kho Ping Hoo (1926-1994)
Legenda Cerita Silat
Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.
Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan.Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya..

Daftar Koleksinya sbb gan :

  • Serial Bukek Siansu
  • Suling Emas
  • Cinta Bernoda Darah
  • Mutiara Hitam
  • Istana Pulau Es
  • Pendekar Bongkok
  • Pendekar Super Sakti
  • Sepasang Pedang Iblis
  • Serial Bukek Siansu.8
  • Kisah Sepasang Rajawali
  • Jodoh Rajawali
  • Suling Emas Naga Siluman
  • Kisah Para Pendekar Pulau Es
  • Suling Naga
  • Kisah Sibangau Putih
  • Si Tangan Sakti
  • Pusaka Pulau Es
Dan masih banyaaaaaaaaak lagiiiiiiiiiiii oh noooo! :D
Pokoknya semuanya Top markotop dah

Penasaran dan pengen baca ceritanya??
Dijamin ga bakalan mau tidur dan makan kalo ceritanya belum selesai! hahaha
Aku sendiri pun sampe lupa waktu nih kalo udah baca si serial kho ping ho ini.
Kecanduan???? Aduuuuuh :p #tepok jidat

Oke deh, Kalian bisa baca sepuas2nya :D yeeeeee

Minggu, 06 September 2009

Cinta itu butuh kesabaran...


Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???

************

Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia.....

Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah.....

Ia menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu.

Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula

Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.

Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami berpacaran

Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci....

Aku sangat bahagia dengan nya,,diya sangat memanjakan aku.... Sangat terlihat
rasa cinta dan sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali
bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.

************

5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami
hanya berdua saja.

Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di
tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu - satunya dalam keluarga nya,,jadi aku harus
berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya...

Alhamdulillah suamiku mendukung ku.... Ia mengaggap Allah belum mempercayai
kami untuk menjaga titipan NYA.

Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu & adiknya tidak
menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari
mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku.....

didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi dibelakang suami ku,,aku
dihina - hina oleh mereka...

Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami
kecelakaan,, , mobilnya hancur

Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi
seorang janda.

Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan diri,,aku selalu
menemaninya siang & malam, kubacakan ayat - ayat suci Al - Qur'an,aku sibuk
bolak - balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku
sibuk mengurus suamiku yang sakit karean kecelakaan.

Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,,aku melihat
didalam kamarnya ada ibu, adik - adiknya dan teman - teman suamiku, dan satu
lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya. Mereka
tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami
ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di depannya.

Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan "Assalammu'alaikum"
mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua
melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin ia kangen padaku karena
sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya melambai,,mengisyar atkan
aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah aku menghampirinya, ku cium
tangannya sambil berkata "Assalammu'alaikum", ia pun menjawab salam ku dengan
suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Ibu nya lalu berbicara sama aku ...

"Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri"

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya,
perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan keluarga suamiku.
Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.
Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku biacara di dalam
ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka - luka di kepala suamiku,,,baru
sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba - tiba adik ipar ku yg bernama Dian
mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun
mengijinkannya. Aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata " lebih baik kau pulang saja " Ada
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. "

Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus
banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil,, Aku berdebat dengannya
mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba - tiba ibu mertuaku
datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg sama, ia akan memberi alsan
pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya, toh suamiku selalu
menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya,
akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali
dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis
mengapa mereka sangat membenciku.

************

Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut
kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Pagi itu, pada
saat aku membersihkan pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman
belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit
kami, sambil melihat ikan - ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya " Ada apa kamu memanggil ku ?"

Ia berkata " Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang "

Aku menjawab " Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang - barang kamu di
travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?"

"Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sdh lama
tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku kan pulang
dengan mama ku " Jawab nya tegas

"Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?" tanya ku
balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena
ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku bersusah payah
mencarikan tiket pesawat untuknya.

" Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti " jawab nya tegas

" Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu tidak
bertemu, ya kan ?" lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium keningku.
Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya.
Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena
keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku karena
suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg pergi, dan kami
juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya harus
komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak,
tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak mau membuat riuh
keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang
akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku
lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu,,tapi
aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan
ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama -
sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu
saja teman ngobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.

Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya.
Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh
berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu
menelpon ku.

************

Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah
aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu
kesepian di tinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di sana aku
pun jatuh sakit...rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali,,,tak tahan
aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai - sampai aku mengalami
pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki - lakiku yang
kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim
stdium 3.... Aku menangis,,apa yang bisa aku banggakan lagi,,mertuaku akan
semakin menghinaku,, ,suami ku yang malang ,,yang berharap akan punya
keturunan dari rahimku... Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya
memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia pulang, aku tak
tahu..

Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah - marah jika
menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu marah - marah
terhadapku,,

Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia
berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada
nya.
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung....

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto - f
oto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.

Ku buka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms, ia menulis "aku
sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku kabarin
lagi".

Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego
yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum
kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan
masalah komunikasi kami yg buruk akhir - akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam, sebelum
masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku membungkuk
untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya, aku tak mau ada
syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung
mencium tangannya tapi apa reaksi nya ...

Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia langsung
mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya
sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada
tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama'ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas,
aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening nya, lalu
aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka'at.

************

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon kamar
kami dia bersiap - siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi ia tak mendengar,
lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah tanpa
memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi ia begitu
cepat pergi,,ada apa dengan suamiku...mengapa ia sangat aneh terhadapku ?

Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.
Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian yang
angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan
suamiku. Dengan enteng ia menjawab "Loe pikir aja sendiri !!!" telpon pun
langsung terputus.

Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah
setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara
padaku, apalagi memanjakan ku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung
jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja, aku selalu di
introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat, ia bertanya denagn
nada yg keras, suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan mantan
pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah
itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status
suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku hanya berdo'a agar
suamiku sadar akan prilakunya. *******

2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam, lelah
menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja kenal, kemesraan
yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun kondisinya tetap seperti itu,
aku tetap merawatnya & menyiapi segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih
aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya obat apa yang aku minum.
Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak
tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang
guru ngaji jadi aku tak perlu repot - repot meminta uang pada nya hanya untuk
pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi orang
asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir sendiri.
Tiba - tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.

"ya ada apa Yah !" sahutku dengan memanggil nama kesayangannya "Ayah"

"Lusa kita siap - siap ke Sabang ya !" Jawabnya tegas

" Ada apa ?" Mengapa ?" sahutku penuh dengan keheranan

Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya mebentakku,,
tak ada lagi diskusi antara kami.

Dia mengatakan " Kau ikut saja jgn byk tanya !!! "

Aku pun lalu mengemasi barang - barang yang akan dibawa ke Sabang sambil
menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.

2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang
asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi
foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari batu es. Aku
menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak tapi aku tak
bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi,
suka membanting barang - barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan
ketidakhormatan kedapanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan
sabar mengobati penyakitku ini sendiri.

************

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak
tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah berkumpul disana,
termasuk ibu & adik - adiknya, aku tidak tahu ada acara apa ini.. Aku dan
suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia
pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm lemari tua
yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada sebelum suamiku
lahir.
Tiba - tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk
segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yag berada di
tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit -
langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku, suamiku menunduk
penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba - tiba saja
neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya
membuka pembicaraan.

"Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau
Fisha ! " Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang tajam.
" Ada apa ya Nek ?" sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab " Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun,
sampai saat ini kami tak melihat tanda - tanda kehamilan yang sempurna, sebab
selama ini kau selalu keguguran !!'

Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau di pisahkan
dengan suamiku.

"Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau menikah
dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur, dan akhirnya
menikahlah ia dengaa kau." Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat
orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
"Dan aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya"
Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku
peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian.

Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari
pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata " kau mau
nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?"

Masya Allah...... kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini seakan
remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap seperti ini
terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

"Fish, jawab !! " Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab

Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan gemetar
aku menjawab dengan tegas....... ..
" Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat
berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan
keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami."

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada saat itu
juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku tak sedikit
pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suami ku, "Ayah siapakah yang akan menjadi sahabat ku
dirumah kita nanti Yah ? "

Suamiku menjawab " Dia Desi ! "

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara " Kapan pernikahan nya
berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek ?"

Ayah mertuaku menjawab "Pernikahannya 2 minggu lagi."

" Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruh nya
mengurus KK kami ke kelurahan besok" setelah berbicara seperti itu aku
permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka
pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku
sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah
dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini suamiku
menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?

Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah tidak
cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari
rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi,
rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba - tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia berdiri
dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung memandangnya dari cermin
meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan "terimah kasih ayah, kamu
memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi
kamu nanti ! iya kan ?"

Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum
dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai
shampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah tak memanjakan ku
lagi.. Lalu dia bilang bilang "sudah malam, kita istirahat yuk " !

"Aku sholat isya dulu baru aku tidur" jawab ku tenaang.

Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan
berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku
tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku. Aku
ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku, diamana rasa
sayang dan cintanya itu.

************

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop aku menulis saat - saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada
suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang tidur
pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku save di my document
yang bertitle "Aku mencintaimu Suamiku "

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar,
aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku takkan bisa
melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama,, lalu suamiku yang telah siap
dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

"Apakah kamu sudah siap ?"

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

"Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke dalam
rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu, lalu
ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do'a di ubun - ubunya
sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu....." tak sanggup
aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menagis meledak

Tiba - tiba suamiku menjawab "lalu apa Bunda ?"

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku langsung
menatapnya dengan mata yang berbinar - binar...

"bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?" pinta ku tuk menyakini
bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata " Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda ?"
sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sidikit
membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja.

Dia tersenyum, sambil berkata " Kita liat saja nanti ya !" dia memelukku dan
berkata, "bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama"
lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan berkata " Ayah,
apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana saja ? Mengapa ayah berubah ?
Aku kangen sama ayah ? Aku kangen belaian kasih sayang ayah ? Aku kangen
dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan satu hal lagi yang harus ayah
tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita pacaran,aku memang
belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima,
jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari." Bukan bearti aku
pernah berzina ayah. Aku langsung bersujud di kakinya dan mencium kaki imamku
sambil berkata " Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah"

Saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.
Tiba - tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan ku,
dan ia bertanya " bunda baik - baik saja kan " tanya nya dengan penuh
khawatir.

"aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu
sudah membuatku baik Yah" aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia akan
menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara
prosesi akad nikah tersebut.

************

Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di sebrang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati ini
cemburu, ingin berteriak mengatakan "Ayah Jangan" tapi aku ingat akan kondisi
ku.

Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut. Begitu
ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante yang baik
itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini, ya,,aku
kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang - orang
yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku sangat aneh,
wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak mencuci
kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia tidak suka dengan
pernikahan ini ?

Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga ku

...

Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga suamiku,tak seperti aku
yang di musuhinya.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur dengan
perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka lakukan
didalam.

1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, aku
melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, ku dekati
lalu ku lihat.... Masya Allah, suamiku tak tidur dengannya,ia tidur disofa,
aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah, tiba - tiba ia
memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

"kamu datang ke sini, aku pun tau " ia langsung berkata seperti itu, aku
tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia
mengatakan "maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego
nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta , biar Desi pulang dengan mama,papa Dan
juga adik - adikku"

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk
istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah
lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut
untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah meresakan kehadirannya saat
ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku untuk mersakan kehangatan dari
suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.

Suamiku berbisik, "Bunda kok kurus ?"

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata "Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?"

" Aku kangen sama kamu Bunda " Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah
terluka oleh sikapku yang egois" Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, " Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda...
Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai ayah,
bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi ayah pernah
melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya klo bunda gk mau
berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip ( "seperti itu" ),
ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan ayah berpikir klo bunda
pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh
keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda "

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan
didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa
tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab "Aku sudah ceritakan itu kan Yah, aku tidak pernah berzinah,
dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa
kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya
mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita
mencintaimu.

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian di
kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku
dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Karna aku tak mau
mati dalam hati yang penuh denagn rasa benci.

************

Keesokan harinya..... .....

Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit
sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget...

Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit....

Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku....

Aku merasakan tanganku basah...

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan " Bunda,,Ayah minta
maaf ,,,,!!"

Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa yang
terjadi padaku.

Aku berkata dengan suara yang lirih " Yah....Bunda ingin pulang,,bunda ingin
bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah...."

"Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah... !!! Bunda sayang banget sama
Ayah "

Tiba - tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas, kakiku
sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku,
kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.

Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup denagn
kalimat tahlil.

*********************

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka,,

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami
menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.

Untuk Ibu mertuaku : "Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai
aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo'a
agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan
suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau sangat cemburu padaku
Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka
kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu,
tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi dengan ku,
menantumu kau bersikap sebaliknya."

************

Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku

Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku

Aku dihina oleh mereka ayah.

Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?

Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik
iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidak sukaannya. Sangat terlihat
Ayah.

Tapi ketika engaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu
ayah.

Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu pasti membela
adikmu, tak ada gunanya Yah.



Aku diusir dari rumah sakit.

Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku

Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku

Aku sangat marah....

Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan
ibunya.

Aku tak mau sakit hati lagi.

Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku

Engkau Maha Adil.

Berilah keadilan ini padaku Ya Allah



Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.

Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja - manja lagi padamu.

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.

Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.

Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.





Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu

Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui

Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku

Aku harus sadar diri

Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu

Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?

Ayah aku masih tak rela

Tapi aku harus ikhlas menerimanya



Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya

Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku

Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir

Sebelum ajal ini menjemputku

Ayah...aku kangen ayah



Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun

Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini

Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwarna pink yang mencerminkan
keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.

Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.

Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda... Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah...

Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku
tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.

Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak
perduli, dalam kesendirianmu. ...

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan
belaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..

Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..

Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu
yang panjang.

Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu
mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku
ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?

Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di alam sana ?

Tunggulah Ayah disana Bunda......

Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini...... Aku mohon.....

Ayah Sayang Bunda....
http://gogatsuotaya.blogspot.com/2009/07/cerpen-sedih.html

Misha sinkap kembali tabir ingatannya. Sharon. Manis nama itu, semanis orangnya. Dialah kawan karib Misha yang selalu diingatannya. Sudah enam tahun mereka mengenali antara satu sama lain. Kegembiraan dan keperitan hidup di alam remaja mereka melalui bersama. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan sahaja. Misha kehilangan seorang sahabat yang tidak ada kalang-gantinya.


Peristiwa itu berlaku dua tahun yang lalu. Sewaktu itu mereka sedang berada di kantin sekolah. Misha sedang marahkan Sharon kerana mengambil pena kesukaannya tanpa izinya dan menghilangkannya.

Apabila Misha bertanya, dia hanya berkata yang dia akan menggantikannya. Misha tidak mahu dia menggantikannya. Kerana pena yang hilangtu berlainan dengan pena yang akan diganti oleh Sharon. Pena yang hilang itu adalah hadiah daripada Sharon sewaktu mereka pertama kali menjadi sepasang kawan karib.

"Aku tak mahu kau menggantikannya! Pena yang hilangtu berharga bagiku! Misha memarahi Sharon." " Selagi kau tak jumpa penatu, selagi itulah aku tak akan bercakap dengan kau!" Marahnya Misha pada Sharon. Meja kantintu di hentaknya dengan kuat hingga terkejut Sharon. Misha yang mukanya memang kemerah-merahan, bila marah bertambahlah merahlah mukanya. Sharon dengan keadaan sedih dan terkejut hanya berdiamkan diri lalu beredar dari situ. Misha tahu Sharon berasa sedih mendengar kata-katanya itu. Misha tidak berniat hendak melukainya tetapi waktu itu dia terlalu marah dan tanpa dia sedari, mutiara jernih membasahi pipinya.

"Sudah beberapa hari Sharon tidak datang ke sekolah. Aku merasa risau. Adakah dia sakit? Apa yang terjadi" Berkata-kata Misha seorang diri. Benak fikirannya diganggu oleh seribu satu pertanyaan "EH! Aku nak pergi kerumahnyalah" Berbisik Misha di hatinya. Tetapi niatnya berhenti di situ. Dia merasa segan. Tiba-tiba talipon dirumah Misha berbunyi "Ring,riiiiiiiing,riiiiiiiiing,riiiiiiiing"Ibu Misha yang menjawab panggilan itu."Misha, oh, Misha "Teriak ibunya. "Cepat, salin baju. Kita pergi rumah Sharon ada sesuatu berlaku. Kakaknya Sharon talipon suruh kita pergi rumahnya sekarang jugak" Suara ibu Misha tergesa-gesa menyuruh anak daranya cepat bersiap. Tiba-tiba jantung Misha bergerak laju. Tak pernah dia merasa begitu. Dia rasa tak sedap. Ini mesti ada sesuatu buruk yg berlaku. "Ya Allah, kau tenteramkanlah hatiku. Apapun yang berlaku aku tahu ini semua ujianmu. Ku mohon jauhilah segala perkara yang tak baik berlaku. kau selamatkanlah sahabatku." Berdoa Misha pada Allah sepanjang perjalanannya ke rumah Sharon.


Apabila tiba di sana, rumahnya dipenuhi dengan sanak -saudaranya. Misha terus menuju ke ibu Sharon dan bersalaman dengan ibunya dan bertanya apa sebenarnya yang telah berlaku. Ibunya dengan nada sedih memberitahu Misha yang Sharon dilanggar lori sewaktu menyeberang jalan berdekatan dengan sekolahnya." Dia memang tidak sihat tapi dia berdegil nak ke sekolah. Katanya nak jumpa engkau. Tapi hajatnya tak sampai. Sampai di saat dia menghembuskan nafasnya, kakaknya yang ada disisinya ternampak sampul surat masa ada dia gengam ditangannya" terisak-isak suara ibu Sharon menceritakan pada Misha sambil menghulurkan surat yang Sharon beriya-iya sangat ingin memberikannya pada sahabatnya.

Didalam sampul surat itu terdapat pena kesukaanku. Disitu juga terdapat notadaripadnya.


MISHA SHARMIN,
AKU MINTA MAAAF KERANA MEMBUAT KAU MARAH KERANA TELAH MENGHILANGKAN PENA KESUKAANMU. SELEPAS ENGKAU MEMARAHI AKU, AKU PULANG DARI SEKOLAH SEWAKTU HUJAN LEBAT KERANA INGIN MENCARI PENAMU.DI RUMAH AKU TAK JUMPA.TAPI AKU TAK PUTUS ASA DAN CUBA MENGINGATINYA DAN AKU TERINGAT, PENATU ADA DI MEJA SCIENCE LAB . ITUPUN AGAK LAMBAT AKU INGIN KESEKOLAH KERANA BADANKU TAK SIHAT TAPI DENGAN BANTUAN SITI DIA TOLONG CARIKAN. PENATU SITI JUMPA DIBAWAH MEJAMU. TERIMA KASIH KERANA TELAH MENGHARGAI PEMBERIANKU DAN PERSAHABATAN YANG TERJALIN SELAMA SETAHUN. TERIMA KASIH SEKALI LAGI KERANA SELAMA INI MENGAJARKU TENTENG ERTI PERSAHABATAN.

SHARON OSMAN.

Kolam mata Misha dipenuhi mutiara jernih yang akhirnya jatuh berlinangan dengan derasnya.Kalau boleh ingin dia meraung sekuat hatinya. Ingin dia memeluk tubuh Sharon dan memohon maaf padanya tapi apakan daya semuanya dah terlambat. Mayat Sharon masih di hospital. Tiba-tiba dentuman guruh mengejutkan Misha daripada lamunan. Barulah dia sedar bahawa dia hanya mengenangkan kisah silam. Persahabatan mereka lebih berharga daripada pena itu. Misha benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Dia berjanji tak akan membenarkan peristiwa ini berulang kembali. Semenjak itu Misha rajin bersolat dan selesai solat dia akan membaca al quran dan berdoa dan bersedekahkan ayat-ayat al quran kepada sahabatnya. Dengan cara ini sahajalah yang dapat Misha balas balik jasanya Sharon dan mengeratkan persahabatanya. Semoga dengan kalam Allah Sharon akan bahagia di alam baza.

sumber:
rainerus.blogspot.com


" mah, ade mana..?,ade kenapa mah ? " terdengar suara seorang anak usia 8 tahun memecah keheningan ruangan.nampak seorang ibu yg wajahnya begitu kuyu,matanya masih berkaca-kaca.namun tak ada air mata yang keluar.mengelus kepala anak tadi tanpa mengeluarkan sepatah kata.sang ibu yang seakan kehabisan air mata,kehabisan kata-kata,tak mampu menjawab pertanyaan anaknya tadi.

Semuanya begitu cepat terjadi.ketika Ia sedang menyiapkan buat buka puasa keluarganya,musibah itu pun terjadi.gempa yg meluluh lantakkan sebagian rumahnya dan rumah sekitarnya telah merenggut anaknya yg pada saat kejadian tengah bermain di dalam rumah bersama kakaknya yg tadi bertanya.

Sebuah serpihan tembok dari bangunan rumahnya yg nyaris runtuh telah menimpa tepat kepala anaknya yg berumur 5 tahun.betapun paniknya,ia berusaha membawa anaknya yg terluka.namun takdir berkehendak lain.anaknya menghembuskan nafas terakhir dipangkuannya..ia pun menangis sejadi jadinya.

Ingin ia berteriak,menyalahkan takdir,mempertanyakan kepada Tuhan kenapa semua ini terjadi pada dirinya.namun sebentuk kesadaran tiba tiba menyelinap dalam dadanya.Sebuah kesadaran bahwa semua itu tidak terlepas dari rencana Tuhan yg menyayangi umatnya.tidak ada peristiwa tanpa ada hikmah didalamnya..Ia pun segera memohon ampun kepada Tuhan.meski kesedihan itu belumlah reda dalam dadanya,kehilangan yg begitu menyakitkan hatinya ,namun Ia ikhlas anak yg merupakan titipan -NYa ,diambil kembali oleh Sang Penciptanya..

" Mah ade mana ? ,ade kenapa mah? ..kembali terdengar pertanyaan anak sulungnya..kemudian, tanpa menjawab ia dekap kepala anak itu kuat kuat kedalam rengkuhannya.....Ia hanya menangis dalam diam...

Bandung,3 september 2009

"sudahlah nduk,tak baik bersikap begini.bagaimana bila ndoro tahu,kami tahu siapa kami,kasta kita berbeda " kata seorang ibu tua sambil mengelus rambut seorang gadis cantik puteri Raden Mas Suromenggolo.Seorang yang sangat ia dan keluarganya hormati dan junjung tinggi.karena selain seorang ningrat terkaya didusun itu,juga tempat ia dan keluarganya mengabdi.menjadi abdi dalem yang turun temurun sejak kakek dan neneknya,turun ke orang tuanya,dan sekarang dia dan anak semata wayangnya mengabdikan dirinya kepada keluarga ningrat yang kaya dan baik ini.

" Tidak mbok,aku tidak mau menerima pinangan adipati itu..aku tidak mencintainya.aku hanya mencintai Baskara" berkata gadis itu sambil terisak dipangkuan simbok yang mengasuhnya sejak lahir.sejak ibu kandungnya meninggal tak lama setelah ia dilahirkan.

Terdengar suara Simbok perlahan menahan haru yg sedari tadi menghimpit dadanya."nduk,anakku,sudah menjadi takdir bahwa kaum kita,hanya bisa pasrah menerima nasib yg ditentukan oleh orang tua kita.kita tidak mampu membantah titah dari Ndoro Raden ayahmu".

Sementara itu dibalik bilik bambu kamar simbok,seorang pemuda yg tak kalah gundah,mendengarkan semua pembicaraan simbok dan gadis itu.Baskara adalah anak kandung simbok yg juga merupakan teman bermain sedari kecil gadis itu.terlihat bibirnya mengatup,matanya berkaca-kaca.terasa hatinya diiris sembilu mendengar semua itu.Ingin ia menghambur kedalam kamar,memeluk dan menghibur gadis itu,seperti yg selama ini ia lakukan.Tapi semua itu tertahan diangan angan.Ia dan simbok,ibunya,tahu betul siapa Raden Mas Suro menggolo.Seorang ningrat yang telah memberikan terlalu banyak budi kebaikan kepada keluarganya.Tak mungkin Ia kini mengkhianati dan membuat malu keluarga Ningrat itu.

Didalam kamar tidak terdengar tangis lagi,hanya tinggal isak lembut gadis itu.mata simbok tak kuasa menahan turunnya air dari mata tuanya.sambil masih mengelus rambut gadis itu dia berkata lirih:

"Nduk,lupakan Baskara,lupakan semua yg terjadi diantara kalian.semua itu tidak harus terjadi.demi kebahagiaan Ndoro,demi kebahagiaanmu,turuti semua titah ayahmu nduk ".

Tangis gadis itu pecah kembali namun tak sehebat tadi.kemudian diantara isak tangisnya ia berkata-kata.Namun semua itu tak terdengar lagi oleh Baskara yang dengan langkah gontai meninggalkan rumah itu tanpa tujuan,.yg dia bawa hanyalah kepedihan dan kehancuran hatinya yang tak mampu melawan nasibnya dan nasib gadis pujaannya.

Dan beberapa tahun kemudian munculah seorang pujangga yg terkenal dengan sajak-sajakinya yg sangat menyentuh menulis sebuah sajak:

Kasih,betapa indah malam yg berhias purnama ini.
tapi bukan milik kita
betapa merdu kidung yg bersenandung dimalam sunyi
tapi bukan milik kita
semua keindahan ini bukan diciptakan untuk kita
semua kebahagiaan itu hanya semu....hanya kembang tidur.
adakah setitik nyala yang tersisa ditengah kehampaan ini
rasanya tak mungkin menggapai asa masa lalu
tuk kita reguk dimasa datang
kini aku sendiri, terhempas , terluka,



dan nun jauh disana...seorang perempuan yg sedang menggendong anaknya hanya bisa memejamkan matanya sambil mengusap butir airmatanya yg tak mampu ia tahan.........
oleh:Bey

Bandung,September 2009


"sudahlah nduk,tak baik bersikap begini.bagaimana bila ndoro tahu,kami tahu siapa kami,kasta kita berbeda " kata seorang ibu tua sambil mengelus rambut seorang gadis cantik puteri Raden Mas Suromenggolo.Seorang yang sangat ia dan keluarganya hormati dan junjung tinggi.karena selain seorang ningrat terkaya didusun itu,juga tempat ia dan keluarganya mengabdi.menjadi abdi dalem yang turun temurun sejak kakek dan neneknya,turun ke orang tuanya,dan sekarang dia dan anak semata wayangnya mengabdikan dirinya kepada keluarga ningrat yang kaya dan baik ini.

" Tidak mbok,aku tidak mau menerima pinangan adipati itu..aku tidak mencintainya.aku hanya mencintai Baskara" berkata gadis itu sambil terisak dipangkuan simbok yang mengasuhnya sejak lahir.sejak ibu kandungnya meninggal tak lama setelah ia dilahirkan.

Terdengar suara Simbok perlahan menahan haru yg sedari tadi menghimpit dadanya."nduk,anakku,sudah menjadi takdir bahwa kaum kita,hanya bisa pasrah menerima nasib yg ditentukan oleh orang tua kita.kita tidak mampu membantah titah dari Ndoro Raden ayahmu".

Sementara itu dibalik bilik bambu kamar simbok,seorang pemuda yg tak kalah gundah,mendengarkan semua pembicaraan simbok dan gadis itu.Baskara adalah anak kandung simbok yg juga merupakan teman bermain sedari kecil gadis itu.terlihat bibirnya mengatup,matanya berkaca-kaca.terasa hatinya diiris sembilu mendengar semua itu.Ingin ia menghambur kedalam kamar,memeluk dan menghibur gadis itu,seperti yg selama ini ia lakukan.Tapi semua itu tertahan diangan angan.Ia dan simbok,ibunya,tahu betul siapa Raden Mas Suro menggolo.Seorang ningrat yang telah memberikan terlalu banyak budi kebaikan kepada keluarganya.Tak mungkin Ia kini mengkhianati dan membuat malu keluarga Ningrat itu.

Didalam kamar tidak terdengar tangis lagi,hanya tinggal isak lembut gadis itu.mata simbok tak kuasa menahan turunnya air dari mata tuanya.sambil masih mengelus rambut gadis itu dia berkata lirih:

"Nduk,lupakan Baskara,lupakan semua yg terjadi diantara kalian.semua itu tidak harus terjadi.demi kebahagiaan Ndoro,demi kebahagiaanmu,turuti semua titah ayahmu nduk ".

Tangis gadis itu pecah kembali namun tak sehebat tadi.kemudian diantara isak tangisnya ia berkata-kata.Namun semua itu tak terdengar lagi oleh Baskara yang dengan langkah gontai meninggalkan rumah itu tanpa tujuan,.yg dia bawa hanyalah kepedihan dan kehancuran hatinya yang tak mampu melawan nasibnya dan nasib gadis pujaannya.

Dan beberapa tahun kemudian munculah seorang pujangga yg terkenal dengan sajak-sajakinya yg sangat menyentuh menulis sebuah sajak:

Kasih,betapa indah malam yg berhias purnama ini.

tapi bukan milik kita

betapa merdu kidung yg bersenandung dimalam sunyi

tapi bukan milik kita

semua keindahan ini bukan diciptakan untuk kita

semua kebahagiaan itu hanya semu....hanya kembang tidur.

adakah setitik nyala yang tersisa ditengah kehampaan ini

rasanya tak mungkin menggapai asa masa lalu

tuk kita reguk dimasa datang

kini aku sendiri, terhempas , terluka,



dan nun jauh disana...seorang perempuan yg sedang menggendong anaknya hanya bisa memejamkan matanya sambil mengusap butir airmatanya yg tak mampu ia tahan.........
oleh:Bey

Bandung,September 2009

Ingin rasanya kembali ke masa lalu. Saat semuanya indah dan ceria. Penuh tawa dan canda. Tidak seperti sekarang ini yang penuh sengsara. Jalanan becyek, engga ada ojyek, mana disamber bebek, dan bau kelek! Tapi aku harus bertahan dan berjuang.

Meskipun setiap hari aku harus selalu melihatmu, yang membuatku semakin tersiksa. Menyadari bahwa orang yang sangat aku cintai, telah nyata menjadi milik orang lain. Dan kebersamaan yang dulu penuh tawa canda &selalu;kukenang, tak ada artinya buatmu.

Begitu andine menorehkan kalimat-kalimat tsb dalam diary-nya... Dia begitu mengenang Mas Tarjo, cinta pertamanya sewaktu SMU dulu.. Yah.. Mas Tarjo, walaupun berkulit hitam namun...

Kugenjot becakku perlahan menyusuri jalan Pemuda Semarang yang lengang. "wah, kalau begini lebih baik aku dulu tetap jadi blogger aja ya...! Capek jadi tukang becak begini..." sambil berpeluh aku tetap tersenyum dan mengepulkan asap rokokku dalam2.

Kuingat masa mudaku sebagai tukang becak kebanggaan Semarang. Tanjung Emas - Jatingaleh PP bisa kukebut dalam 3 jam. Pulangnya lebih cepat. Tanpa rem pula. He-eh, trang rak enak is...

GUBRAK..! tiba tiba becakku menabrak tukang jamu yang lagi melayani pembelinya, karena saat itu lamunanku tentang andien tiba tiba muncul di wajah tukang jamu itu....

Ya, sepintas andien sekarang benar-benar ada dihadapanku. Kuberanikan diri bersenandung lagu gundul-gundul pacul versi jazz.

Tiada gading yang tak retak, begitu juga kukenang dirinya yang penuh dengan kesalahan. Aku sudah memaafkan mantan istriku, walaupun sekarang ini masih terasa sakit.

www.cerpenista.com


Romans Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Loviano

Besok Vina ulang tahun. Aku ingin merayakan bersamanya tepat di pergantian usianya malam nanti. Tapi Desi ingin menginap di apartemenku malam ini.

Desi telpon "Sayang kamu di apartmen kan, aku otw kesana sekarang ya.".

"Tapi.................", belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Desi sudah mematikan telpon.

"Huh, seperti biasa!", umpatku.

Aku kembali dilanda kebingungan.

Segera ku ambil kunci mobil dan bergegas keluar dari apartemen. Aku begini karena Aku sedang ingin meyendiri. Otakku telah penuh dengan keruwetan labirin cinta.

"Aku telah memilih untuk menjalani kisah ini. Apapun yang terjadi aku harus menerima resikonya", kataku dalam hati.

Aku dan Vina genap berhubungan selama 6bulan, dan selama itu pula Desi tidak mengetahuinya. Desi terlihat curiga, ataukah dia memang sudah mengetahuinya? Namun sampai saat ini Desi masih setia mendampingiku dan begitupun dengan Vina.

Aku begitu menikmati sensasi yang muncul saat bersama Vina. Perasaan takut ketahuan Desi justru membuatku tertantang. Sedangkan saat bersama Desi, sensasi itu muncul ketika aku membayangkan Vina yang terbakar api cemburu.

Mungkin aku sudah gila tapi memang begitulah adanya. Oh...Vina dan Desiku yang malang tapi sangat kucintai.

Aku memutuskan untuk bersama Vina malam ini. Aku akan mengajaknya menikmati pergantian usianya. Hanya berdua.

Kami meluncur ke bogor, menuju villa keluargaku dekat puncak pass. Di depan terbentang bantaran lampu-lampu kota yang indah, dengan bukit dan jejeran cemara yang menghitam gelap. Kami membeli bandrek, makan jagung bakar sambil menikmati malam.

"Vin, menurutmu, hubungan kita ini mau dibawa kemana?" ujarku serius sambil menatap kedua matanya.

"Entahlah Ian.......... Statusku belum memungkinkan buat aku untuk membawa hubungan kita ke arah yang lebih serius. Lagipula, kamu sendiri masih ada Desi kan?".

"iyaa", jawabku singkat.

Akh..sudahlah aku tidak mau merusak malam ini dengan topik pembicaraan yang hanya menimbulkan masalah. Sambil memeluk pinggangnya dari balik tubuhnya aku mengecup leher jenjangnya. "Seneng gag sayang aku ajak kamu kesini?" kataku mengalihkan ke topik.

Vina hanya mengangguk. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. "Lima menit lagi...", gumamku.

Lima menit lagi Vina genap berusia 28 tahun.

Tiba-tiba, HPku berbunyi........

Desi menelpon, Aaargghhh...!!! Pasti dia di apartmen dan kebingungan mencariku. Aku ingin menjawab telpon tapi aku juga tak ingin merusak malam ini dengan menjawab telpon Desi. Akhirnya aku me-Non aktifkan Hp. "Koq dimatiin? siapa?" tanya Vina.

Aku bingung harus menjawab apa. Aku ingin menjaga perasaan Vina. Aku tak ingin kebahagiaannya malam ini harus lenyap karena telpon dari Desi.

"Gag ada namanya, sepertinya salah sambung Vin." kataku beralasan "Kamu kedinginan ya sayang, ini pake jaketku." Aku memakaikan jaket ke tubuh Vina yang terlihat kedinginan. Lalu aku memeluk erat tubuhnya.

"Happy birthday.............", kubisikkan ucapan selamat di telinganya. Ia membalikkan badannya dan menatapku.

"thanks beib, i love you. Aku seneng sekali." kata Vina lembut.

Malam itu, aku dan Vina menghabiskan waktu di Bogor. Untuk sesaat, aku bisa melupakan Desi yang mungkin sedang kebingungan mencariku.

embun pun berlalu meninggalkan kelam malam. semburat cahaya fajar tak menghapus aroma kesejukan pagi. aku pun masih memandangi wajahnya Vina. lekat-lekat.

"Kamu ke mana aja semalam? Aku nyariin kamu ke mana-mana! Mau kamu itu apa sih? Kenapa gak ngasih kabar?", tanya Desi ketika aku menelponnya setelah kembali dari Bogor bersama Vina.

"aku ke luar kota beib, hapeku low bat. Lupa bawa charger".

"Ah, alesan," Desi menjerit. Suaranya cempreng seperti bunyi kaleng.

"yah, ga percaya.. tu buktinya hape ku kemaren ga aktif", jawabku bernada canda

"Ya udah. Aku ke tempatmu sekarang. Awas klo sampe kamu gak ada di sana", kata Desi setengah mengancam.

"iya.. iyaa.. aku tunggu kamu deh honey, see yaa...".

Setengah jam kemudian, Desi tiba di apartemenku. Untunglah semua jejak yang ditinggalkan Vina di apartemenku sudah kusingkirkan. Entah kenapa, aku merasa tidak menginginkan kehadiran Desi malam ini. Yang ada dalam pikiranku hanya Vina.

Ya, cuma Vina. Bukan yang lain. Tentu saja bukan Vina Panduwinata maksudku. Ini Vina pujaan hatiku.

Vina yang ini Vinaku, bukan Vinamu atau Vina mereka. Dan mendadak dalam perutku seperti ada benda yang ingin dikeluarkan.

"addooh.. sakit perut..", pikirku sambil berlalu ke kamar mandi.

Tidak ada yang istimewa hari ini. Hanya sekedar menghabiskan waktu bersama Desi. Tubuhku memang berada di sampingnya, tapi hanya wajah Vina yang bermain di dalam otakku.

Imaji Vina menari-nari. Meliuk ke kiri dan ke kanan seperti sexy dancer kelas atas.

"beib, kamu kok ngelamun sih?",tanya desi memecah lamunanku.

Aku memandangnya. Ada sedikit perasaan bersalah yang muncul melihat wajah manisnya.

"kenapa... ngomong dong sama aku". aku pun masih memandang lekat desi. diam, tak terucap sepatah katapun.

Malam itu berlalu dengan meninggalkan secercah perasaan bersalah dalam hatiku. Aku mulai menimbang-nimbang untuk meninggalkan Desi dan menjadikan Vina sebagai pacar resmiku. Tapi aku masih belum mampu meninggalkan Desi sepenuhnya.

Sudah seminggu ini ku jalani dengan menyendiri. Menghilang dari Vina dan Desi. Mungkin otak dan hatiku perlu dijernihkan.

Warung-warung kopi dengan fasilitas hotspot menjadi tempat pelarianku. Hingga suatu hari, aku melihat Vina sedang berada di sebuah warung kopi yang kusinggahi. Bersama seorang wanita yang terlihat sedikit tomboy.

Wanita itu duduk di pojok berlindung dalam gelap. Ia sendirian hanya ditemani segelas kopi dan berpuntung-puntung batang rokok di asbak.

tak lama setelah ditinggal teman wanitanya yang pergi meninggalkannya sendiri.

Aku ingin menghampirinya tapi sebelum aku beranjak mendekatinya, wanita tomboy yang bersamanya tadi datang lagi. Aku sangat terkejut melihat wanita itu menghampiri Vina dan mengecup bibirnya.

Dadaku bergemuruh hebat menyaksikan itu. "Woooi...gue juga mauuu!!!" pekikku, tapi dalam hati saja.

Aku tak percaya dengan pandangan mataku. Jadi.......... "Benarkah Vina telah menjadi penyuka sesama jenis?", ucapku dalam hati.

Hatiku mulai gundah. "Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, pokoknya gue kudu nyegah si Vina, jangan sampe kayak gitu" tekadku.

Beberapa saat kemudian, teman wanitanya itu kembali meninggalkan dia sendirian. Aku menghampirina. "Hi Vin........", sapaku. Vina terkejut. Mungkin dia tidak menduga kalau aku akan ada di situ.

"hei be... ib... kamu kok... dsini say?".

Aku duduk di hadapannya. "Aku udah lihat semuanya. Knp Vin? Knp kamu harus seperti ini?", tanyaku. Vina tidak menjawab. Dia tertunduk dan menangis.

aku pandangi vina lekat-lekat. Malam itu, ia bagai siluet diantara petang. Gelap, diantara cahaya.

Vina mengangkat kepalanya dan memandangku tajam. "Kenapa? Kamu gak suka? Tian, aku capek disakitin terus oleh laki2. Termasuk kamu ! Mungkin dengan begini, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku cari".

"Aku tuh bingung ian.. bingung pada diriku, pada kamu, pada hidup ku yang.. ah sudahlah...".

"Aku tahu, aku belum bisa memberikan kebahagiaan sepenuhnya kepadamu. Tapi, ini hanya soal waktu Vin", kataku berusaha meyakinkan Vina

"kamu bohong! kamu tuh ga pernah ngertiin aku.. kamu tuh ga pernah bener-bener sayang sama aku. kamu lebih care sama dia, desi".

"Gak gitu Vin. Bagaimanapun aku harus bagi waktuku untuk kamu dan juga untuk Desi. Satu hal yang harus kamu tahu, saat ini aku lebih sayang kamu daripada Desi. Kalau memang kamu mau miliki aku sepenuhnya, aku akan..............",

"AKAN MUTUSIN DESIII.... HAH??".

Aku terkejut. Aku memang ingin mengatakan itu tapi kata-kata itu terlalu sulit untuk kuucapkan. "Mmmm.... mmmmmm....", aku gelagapan di-skak mat seperti ini.

"kamu gag bisa ngomong kan? aku tau itu Ian... aku mengenal mu...". Kudengar Vina lirih mengucapkannya.

"Baiklah kalau itu memang yang kamu inginkan. Aku akan mutusin desi. Tapi tidak malam ini. Aku akan menemui dia dan mengakhiri hubunganku dengannya. Setelah itu, aku milikmu seutuhnya".

Aku mendengar isakan Vina yang kembali menyeruak. Ku tahu ini tak mudah baginya, tapi aku pun begitu. Tak mudah bagiku untuk mengambil keputusan itu. tapi baiklah...

"Tapi kamu harus janji juga, setelah aku mutusin Desi, kamu juga harus jadi milikku seutuhnya. Aku akan membantu mengurus perceraianmu dan kamu harus meninggalkan pasanganmu tadi. Gimana?".

"entahlah, semua terasa begitu gamang ian...".

"Kamu minta aku tegas kan? Kamu juga harus tegas. Gimana? Setuju?", desakku.

"baiklah... aku setuju. seharusnya sejak dari awal, kau mengatakan ini padaku ian.. sehingga aku tak perlu tersiksa karena mu.".

Aku tersenyum dan menarik Vina ke dalam pelukanku. "Aku akan memberikan kebahagiaan yang selama ini kamu cari", bisikku di telinganya.

cerpenista.com

Kesalahan Terindah (bagian kedua)

Romans Cerpen ini terbatas untuk anggota Group Loviano

Besok Vina ulang tahun. Aku ingin merayakan bersamanya tepat di pergantian usianya malam nanti. Tapi Desi ingin menginap di apartemenku malam ini.

Desi telpon "Sayang kamu di apartmen kan, aku otw kesana sekarang ya.".

"Tapi.................", belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Desi sudah mematikan telpon.

"Huh, seperti biasa!", umpatku.

Aku kembali dilanda kebingungan.

Segera ku ambil kunci mobil dan bergegas keluar dari apartemen. Aku begini karena Aku sedang ingin meyendiri. Otakku telah penuh dengan keruwetan labirin cinta.

"Aku telah memilih untuk menjalani kisah ini. Apapun yang terjadi aku harus menerima resikonya", kataku dalam hati.

Aku dan Vina genap berhubungan selama 6bulan, dan selama itu pula Desi tidak mengetahuinya. Desi terlihat curiga, ataukah dia memang sudah mengetahuinya? Namun sampai saat ini Desi masih setia mendampingiku dan begitupun dengan Vina.

Aku begitu menikmati sensasi yang muncul saat bersama Vina. Perasaan takut ketahuan Desi justru membuatku tertantang. Sedangkan saat bersama Desi, sensasi itu muncul ketika aku membayangkan Vina yang terbakar api cemburu.

Mungkin aku sudah gila tapi memang begitulah adanya. Oh...Vina dan Desiku yang malang tapi sangat kucintai.

Aku memutuskan untuk bersama Vina malam ini. Aku akan mengajaknya menikmati pergantian usianya. Hanya berdua.

Kami meluncur ke bogor, menuju villa keluargaku dekat puncak pass. Di depan terbentang bantaran lampu-lampu kota yang indah, dengan bukit dan jejeran cemara yang menghitam gelap. Kami membeli bandrek, makan jagung bakar sambil menikmati malam.

"Vin, menurutmu, hubungan kita ini mau dibawa kemana?" ujarku serius sambil menatap kedua matanya.

"Entahlah Ian.......... Statusku belum memungkinkan buat aku untuk membawa hubungan kita ke arah yang lebih serius. Lagipula, kamu sendiri masih ada Desi kan?".

"iyaa", jawabku singkat.

Akh..sudahlah aku tidak mau merusak malam ini dengan topik pembicaraan yang hanya menimbulkan masalah. Sambil memeluk pinggangnya dari balik tubuhnya aku mengecup leher jenjangnya. "Seneng gag sayang aku ajak kamu kesini?" kataku mengalihkan ke topik.

Vina hanya mengangguk. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. "Lima menit lagi...", gumamku.

Lima menit lagi Vina genap berusia 28 tahun.

Tiba-tiba, HPku berbunyi........

Desi menelpon, Aaargghhh...!!! Pasti dia di apartmen dan kebingungan mencariku. Aku ingin menjawab telpon tapi aku juga tak ingin merusak malam ini dengan menjawab telpon Desi. Akhirnya aku me-Non aktifkan Hp. "Koq dimatiin? siapa?" tanya Vina.

Aku bingung harus menjawab apa. Aku ingin menjaga perasaan Vina. Aku tak ingin kebahagiaannya malam ini harus lenyap karena telpon dari Desi.

"Gag ada namanya, sepertinya salah sambung Vin." kataku beralasan "Kamu kedinginan ya sayang, ini pake jaketku." Aku memakaikan jaket ke tubuh Vina yang terlihat kedinginan. Lalu aku memeluk erat tubuhnya.

"Happy birthday.............", kubisikkan ucapan selamat di telinganya. Ia membalikkan badannya dan menatapku.

"thanks beib, i love you. Aku seneng sekali." kata Vina lembut.

Malam itu, aku dan Vina menghabiskan waktu di Bogor. Untuk sesaat, aku bisa melupakan Desi yang mungkin sedang kebingungan mencariku.

embun pun berlalu meninggalkan kelam malam. semburat cahaya fajar tak menghapus aroma kesejukan pagi. aku pun masih memandangi wajahnya Vina. lekat-lekat.

"Kamu ke mana aja semalam? Aku nyariin kamu ke mana-mana! Mau kamu itu apa sih? Kenapa gak ngasih kabar?", tanya Desi ketika aku menelponnya setelah kembali dari Bogor bersama Vina.

"aku ke luar kota beib, hapeku low bat. Lupa bawa charger".

"Ah, alesan," Desi menjerit. Suaranya cempreng seperti bunyi kaleng.

"yah, ga percaya.. tu buktinya hape ku kemaren ga aktif", jawabku bernada canda

"Ya udah. Aku ke tempatmu sekarang. Awas klo sampe kamu gak ada di sana", kata Desi setengah mengancam.

"iya.. iyaa.. aku tunggu kamu deh honey, see yaa...".

Setengah jam kemudian, Desi tiba di apartemenku. Untunglah semua jejak yang ditinggalkan Vina di apartemenku sudah kusingkirkan. Entah kenapa, aku merasa tidak menginginkan kehadiran Desi malam ini. Yang ada dalam pikiranku hanya Vina.

Ya, cuma Vina. Bukan yang lain. Tentu saja bukan Vina Panduwinata maksudku. Ini Vina pujaan hatiku.

Vina yang ini Vinaku, bukan Vinamu atau Vina mereka. Dan mendadak dalam perutku seperti ada benda yang ingin dikeluarkan.

"addooh.. sakit perut..", pikirku sambil berlalu ke kamar mandi.

Tidak ada yang istimewa hari ini. Hanya sekedar menghabiskan waktu bersama Desi. Tubuhku memang berada di sampingnya, tapi hanya wajah Vina yang bermain di dalam otakku.

Imaji Vina menari-nari. Meliuk ke kiri dan ke kanan seperti sexy dancer kelas atas.

"beib, kamu kok ngelamun sih?",tanya desi memecah lamunanku.

Aku memandangnya. Ada sedikit perasaan bersalah yang muncul melihat wajah manisnya.

"kenapa... ngomong dong sama aku". aku pun masih memandang lekat desi. diam, tak terucap sepatah katapun.

Malam itu berlalu dengan meninggalkan secercah perasaan bersalah dalam hatiku. Aku mulai menimbang-nimbang untuk meninggalkan Desi dan menjadikan Vina sebagai pacar resmiku. Tapi aku masih belum mampu meninggalkan Desi sepenuhnya.

Sudah seminggu ini ku jalani dengan menyendiri. Menghilang dari Vina dan Desi. Mungkin otak dan hatiku perlu dijernihkan.

Warung-warung kopi dengan fasilitas hotspot menjadi tempat pelarianku. Hingga suatu hari, aku melihat Vina sedang berada di sebuah warung kopi yang kusinggahi. Bersama seorang wanita yang terlihat sedikit tomboy.

Wanita itu duduk di pojok berlindung dalam gelap. Ia sendirian hanya ditemani segelas kopi dan berpuntung-puntung batang rokok di asbak.

tak lama setelah ditinggal teman wanitanya yang pergi meninggalkannya sendiri.

Aku ingin menghampirinya tapi sebelum aku beranjak mendekatinya, wanita tomboy yang bersamanya tadi datang lagi. Aku sangat terkejut melihat wanita itu menghampiri Vina dan mengecup bibirnya.

Dadaku bergemuruh hebat menyaksikan itu. "Woooi...gue juga mauuu!!!" pekikku, tapi dalam hati saja.

Aku tak percaya dengan pandangan mataku. Jadi.......... "Benarkah Vina telah menjadi penyuka sesama jenis?", ucapku dalam hati.

Hatiku mulai gundah. "Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, pokoknya gue kudu nyegah si Vina, jangan sampe kayak gitu" tekadku.

Beberapa saat kemudian, teman wanitanya itu kembali meninggalkan dia sendirian. Aku menghampirina. "Hi Vin........", sapaku. Vina terkejut. Mungkin dia tidak menduga kalau aku akan ada di situ.

"hei be... ib... kamu kok... dsini say?".

Aku duduk di hadapannya. "Aku udah lihat semuanya. Knp Vin? Knp kamu harus seperti ini?", tanyaku. Vina tidak menjawab. Dia tertunduk dan menangis.

aku pandangi vina lekat-lekat. Malam itu, ia bagai siluet diantara petang. Gelap, diantara cahaya.

Vina mengangkat kepalanya dan memandangku tajam. "Kenapa? Kamu gak suka? Tian, aku capek disakitin terus oleh laki2. Termasuk kamu ! Mungkin dengan begini, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku cari".

"Aku tuh bingung ian.. bingung pada diriku, pada kamu, pada hidup ku yang.. ah sudahlah...".

"Aku tahu, aku belum bisa memberikan kebahagiaan sepenuhnya kepadamu. Tapi, ini hanya soal waktu Vin", kataku berusaha meyakinkan Vina

"kamu bohong! kamu tuh ga pernah ngertiin aku.. kamu tuh ga pernah bener-bener sayang sama aku. kamu lebih care sama dia, desi".

"Gak gitu Vin. Bagaimanapun aku harus bagi waktuku untuk kamu dan juga untuk Desi. Satu hal yang harus kamu tahu, saat ini aku lebih sayang kamu daripada Desi. Kalau memang kamu mau miliki aku sepenuhnya, aku akan..............",

"AKAN MUTUSIN DESIII.... HAH??".

Aku terkejut. Aku memang ingin mengatakan itu tapi kata-kata itu terlalu sulit untuk kuucapkan. "Mmmm.... mmmmmm....", aku gelagapan di-skak mat seperti ini.

"kamu gag bisa ngomong kan? aku tau itu Ian... aku mengenal mu...". Kudengar Vina lirih mengucapkannya.

"Baiklah kalau itu memang yang kamu inginkan. Aku akan mutusin desi. Tapi tidak malam ini. Aku akan menemui dia dan mengakhiri hubunganku dengannya. Setelah itu, aku milikmu seutuhnya".

Aku mendengar isakan Vina yang kembali menyeruak. Ku tahu ini tak mudah baginya, tapi aku pun begitu. Tak mudah bagiku untuk mengambil keputusan itu. tapi baiklah...

"Tapi kamu harus janji juga, setelah aku mutusin Desi, kamu juga harus jadi milikku seutuhnya. Aku akan membantu mengurus perceraianmu dan kamu harus meninggalkan pasanganmu tadi. Gimana?".

"entahlah, semua terasa begitu gamang ian...".

"Kamu minta aku tegas kan? Kamu juga harus tegas. Gimana? Setuju?", desakku.

"baiklah... aku setuju. seharusnya sejak dari awal, kau mengatakan ini padaku ian.. sehingga aku tak perlu tersiksa karena mu.".

Aku tersenyum dan menarik Vina ke dalam pelukanku. "Aku akan memberikan kebahagiaan yang selama ini kamu cari", bisikku di telinganya.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!