Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014


02.30 Subuh, namun sepasang mata ini tak kunjung lelah. Ada sesuatu, ada hal yang kini sedang kubayangkan. Sebuah tempat yang kunamai "Negeri Impian". 
Karena memang disanalah segala impian akan terwujud.

Hanya satu cara tuk memasuki gerbang negeri itu. Kamu harus melewati sebuah lingkaran cahaya putih yang bersinar terang, ia terletak di sebuah hutan tak jauh dari rumahku. Setelah masuk, kamu akan melihat sebuah danau yang sangat indah berwarna biru. Disana disediakan sampan untuk menyeberang menuju pusat negeri impian.

Sepanjang perjalanan kamu akan melihat hal-hal yang belum pernah kamu lihat sebelumnya
Ahh.. betapa indahnya negeri itu.Segala keinginan bisa terwujud. Tinggal pilih harapan sebanyak yang kamu mau. Semua harapan berterbangan begitu saja di udara. Dan ketika kamu mengambilnya, lalu harapan itu langsung terwujud dalam hitungan detik. Tring! ;-)
Namun tentu saja, ada syarat yang harus dipenuhi dulu untuk memasuki negeri itu. Hanya orang-orang yang hatinya berbaik sangka, tak ada dengki dan tak pernah putus asa terhadap rahmat Tuhanlah yang bisa memasuki negeri impian itu :-)

Laut biru bergemuruh
Desir angin menembus tulang
Camar camar cantik menukik gelisah
Menyentuhkan sayapnya pada dinding ombak

Terdengar tapak berkecipak dari pelana perak
Perkasanya langkah membelah alam
Menuntun sang puteri
Menuju ke negeri impian ...

Selasa, 11 Maret 2014

Sapardi Djoko Damono merupakan maestro puisi yang sangat handal, puisi-puisi nya begitu menyentuh dan dengan kata-kata yang sederhana namun mampu memiliki arti yang dalam.

Beliau lahir di surakarta 74 tahun silam tepatnya 20 maret 1940.
Buku puisinya yang
pertama adalah duka-Mu abadi (1969), yang terbaru Kolam (2009). Hujan Bulan Juni
diterbitkan bersamaan waktunya dengan Mata Jendela . Selain oleh buku-buku puisi , Sapardi
Djoko Damono juga terkenal karena
Musikalisasi Puisi-puisi nya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu").
Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga
melakukan interpretasi atas beberapa karya
SDD. ( wikipedia)

AKULAH SI TELAGA
Oleh : Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,1982.

ANGIN, 1
Oleh : Sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut 

dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
suara nabi kita Adam
menyapa istrinya untuk pertama kali,
"hei siapa ini yang mendadak di depanku?"
angin itu tersentak kembali

ketika kemudian terdengar jerit wanita

untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi

-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona

sebab tiba-tiba merasa seorang diri 

ditengah bising-bising ini tanpa Hawa

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak, 1982.

ANGIN, 2

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun
api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup
ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.

AKU INGIN
Oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

ANGIN, 3
Oleh : Sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia
menyampaikan padaku tentang
perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.

YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh : Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu.
Kita abadi: memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,Kumpulan Sajak, 1982.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh : Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang bayangku
sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan

BUNGA, 1
Oleh : Sapardi Djoko Damono
(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
ini si bunga rumput, pilihan dewata!"
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu
gua pada suatu pagi,
dan malamnya menyadari bahwa tak nampak
apa pun dalam gua
itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
hutan terbakar dan setelah api ....
Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi
kalian saja, para
manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"

Perahu Kertas,Kumpulan Sajak, 1982.

BUNGA, 2
Oleh : Sapardi Djoko Damono

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan
ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan
kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal
isaratnya -- tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan
pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin,
menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya
berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam

Perahu Kertas,Kumpulan Sajak, 1982.

BUNGA, 3
Oleh : Sapardi Djoko Damono

seuntai kuntum melati yang di ranjang itu
sudah berwarna coklat
ketika tercium udara subuh dan terdengar
ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering:
wanginya mengeras di
empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di
udara ketika
terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa
gerangan yang telah
membawa pergi jasadku?"

Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
1982.

HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu(1989)

DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya (1980)

Tiba-Tiba Malam pun risik
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka
Di Atas Batu
ia duduk di atas batu dan melempar-
lemparkan kerikil ke tengah kali…
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air
sehingga memercik ke sana ke mari…
ia pandang sekeliling :
matahari yang hilang – timbul di sela goyang
daun-daunan,
jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung
— ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.
~*Sapardi Djoko Damono*~

Percakapan Malam Hujan
Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu
panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan,
“Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”
“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;
asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur.
Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”
~*Sapardi Djoko Damono*~
[Hujan Bulan Juni, 1973]

Bunga-Bunga di Halaman
mawar dan bunga rumput
di halaman: gadis yang kecil
(dunia kecil, jari begitu
kecil) menudingnya…
mengapakah perempuan suka menangis
bagai kelopak mawar; sedang
rumput liar semakin hijau suaranya
di bawah sepatu-sepatu…
mengapakah pelupuk mawar selalu
berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut
hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)…
~*Sapardi Djoko Damono*~
[1968]

Kisah
Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak
di plat alumunium itu…
Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi…
Sehabis penghujan reda, plat nama itu
ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi…
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak
berhenti di depan pintu pagar rumahmu,
seperti mencari sesuatu…
la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu..
~*Sapardi Djoko Damono*~
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.

Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak…
Terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi…
~*Sapardi Djoko Damono*~

Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…
~*Sapardi Djoko Damono*~

Senin, 10 Maret 2014

Cinta adalah akad dan pernikahan…
Cinta adalah airnya kehidupan bahkan ia adalah rahasia kehidupan…
Cinta adalah kelezatan ruh,
bahkan ia adalah roh kehidupan…
Dengan Cinta…
menjadi terang semua kegelapan…
akan cerah kehidupan…
akan menari hati…
dan akan bersih qalbu…
Dengan cinta..
semua kesalahan akan dimaafkan…
Dengan cinta semua kelalaian akan diampunkan…
Dengan cinta akan dibesarkan
makna kebaikan…
Kalaulah bukan kerana cinta…
Maka tidak akan saling meliuk satu dahan dengan dahan lainnya,
Kalaulah bukan kerana cinta…
Tidak akan merunduk rusa betina kepada jantannya,
Tidak akan menangis tanah yang kering terhadap awan yg hitam,
Dan bumi tidak akan tertawa terhadap bunga pada musim semi…
Ketika cinta hampa dalam kehidupan…
Maka jiwa akan sempit dan terjadilah pertikaian dan perselisihan…
Ketika cinta telah hilang…
Maka akan layu bunga…
Akan padamlah cahaya…
Akan pendeklah usia…
Akan kering danau dihutan belantara…
Dan akan silih berganti datang penyakit dan sengsara…
Kalau cinta telah sirna…
Tatkala itulah lebah meninggalkan bunga…
Tatkala itu burung pipit meninggalkan sarangnya…
Tatkala itu lah kutilang tidak hinggap lagi pada pucuk cemara…
Sekiranya lautan mempunyai pantai…
Dan sekiranya sungai mempunyai muara…
Maka lautan cinta tidak berpantai…
Dan sungai cinta tidak bermuara…
Kutipan dari buku Buhul Cinta karya Ust Armen Halim Naro rahimahullah

"Bunga manapun, tak pernah lebih indah dari dirimu, terlebih saat kamu tersenyum" Katamu di suatu pagi saat bulu-bulu bunga dandelion indah berterbangan. Melewati kita, bahkan menyentuh pipi dan tangan kita.
Kusembunyikan senyum dan bahagia itu. Ingin rasanya melabuhkan rasa bahagia ini lewat sebuah pelukan, namun waktu belum mengizinkan.

Akan kutunggu hingga saatnya tiba, ya sebentar lagi :)

Rabu, 02 Oktober 2013





THE LAST DATE WITH THE MOON
By Mych Ryan


Here I am, standing in the brink of the day

Staring at the sun that has gone away
And a smile upon your face,
Make me never wanna leave this place

There you are, hardly I can see cause you just so far

I see your eyes blinking, are you a star?
But I remember you said you’re a moon
So I should have seen you soon

And here we are now,

You come to me somehow
You are getting closer and closer,
But why I feel like a stranger?

I remember,

It’s been 365 nights since the last goodbye
It’s too long for me, that’s the reason why

Now please come down, get lower

I’m on the top of the tower and can’t go higher
I have something to say to you
I need to tell you, that… I wanna stop loving you

Sabtu, 08 September 2012


wahai adam,
wanita punya hati bukan utk kau lukai
mereka menagih cinta suci minta dikasihi

wahai adam
wanita punya keindahan bukan sekedar perhiasan
mereka amaran dalam tingkahmu membelai iman

wahai adam
wanita punya emosi bukan untuk dimanjakan
mereka membawa maruah untuk kau pertahankan

wahai adam
wanita punya jasad bukan pelampias nafsumu
mereka aset mulia demi menjaga nasabmu

wahai adam
wanita punya tingkah bukan untuk kau takuti
mereka dilengkapi jiwa selayaknya kau hormati

wahai adam
wanita punya hidup bukan untuk disia-sia
mereka itu lapangan permai bagimu menabur jasa

wahai adam
jika engkau penyambung warisan junjungan Baginda, pimpinlah wanitamu dijalan hasanah mengharap Ridho-Nya

Kamis, 24 Mei 2012

 

 
 
 
Orang bilang ilham, aku bilang jiwa.
Orang bilang inspirasi aku bilang imajinasi.
Orang bilang belajar dari pengalaman aku bilang temukan kebenaran sejati.
Semua telah dicoba namun seolah-olah sia-sia.
Semua telah berusaha namun seolah-olah sungguh sulit melawan dunia.
Semua tidak mau mengerti kita.
Bahwa prinsipnya, dunia sungguh sulit untuk dikalahkan.
Hidup bukan antara aku dan dunia.
Namun antara kita sebagai anggota dari kehidupan.
Sehingga kita bisa menjadi bagian dari hidup.
Dan mengerti kemana hidup ini akan mengarah?
Namun aku tak tahu…
Bagaimana lagi yang harus aku lakukan…
Hingga aku lelah.
Hingga aku menyerah.
Hingga aku sadar,
Bahwa semua itu bukan tentang aku.
Namun tentang dunia.
Namun tentang orang-orang lain.
Kemana harus aku cari jati diri?
Jiwaku yang murni.
Yang mengerti kemana aku harus memilih?
Apa yang harus aku perbuat?
Kemana hati nurani aku cari?
Semua itu bukan tentang aku.
Semua itu bukan tentang pengetahuan agamaku.
Namun tentang sejauh mana hubungan jiwaku dengan Sang Pencipta.
Namun tentang sejauh mana hidupku berarti bagi dunia.
Namun tentang sejauh mana aku mengerti arti hidup yang sesungguhnya.
Bahwa hidup tak perlu berusaha.
Bahwa hidup tak perlu memaksa.
Bahwa hidup tak perlu mengandalkan kekuatan dan kekuasaan.
Namun hidup sesungguhnya menjadi suatu semangat menggebu-gebu untuk berbuat bagi orang lain.

http://masthurah.blogsome.com/category/puisi-hati/

Jumat, 04 November 2011



For you I would climb
The highest mountain peak
Swim the deepest ocean
Your love I do seek.

For you I would cross
The rivers most wide
Walk the hottest desert sand
To have you by my side.
For you are the one
Who makes me whole
You've captured my heart
And touched my soul.

For you are the one
That stepped out of my dreams
Gave me new hope
Showed me what love means.

For you alone
Are my reason to live
For the compassion you show
And the care that you give.

You came into my life
And made me complete
Each time I see you
My heart skips a beat.

For you define beauty
In both body and mind
Your soft, gentle face
More beauty I'll ne'er find.

For you are the one
God sent from above
The angel I needed
For whom I do love.





Pena menghunus,,
beri noktah dalam lembar kehidupan,,
tercabik oleh rangkaian kata tak berputus,,
penuh sesak akan gambaran ronamu yg menawan,,


sajak berbondong jejali otak,,
mengalir lembut tanpa congkak,,
semua berakar dari sebayang paras,,
paras yg tak selipkan sedikitpun kontras,,


tenang mengawang di galaksi hati,,
tlah ku yakini kau tuk disisi,,
kau sudutkan simpul manis disela bibirmu,,
pertegas ketukan palu yg tlah bertalu,,


akanku jelajahi taman hatimu,,
akanku titipkan rindu dinafasmu,,
agar parasmu tak hanya sebuah bayang,,
agar angan ini tak melayang.


With Love :)

Jumat, 26 Agustus 2011





This is a thousand of poem that I write for you.
But I still felt that I failed to explain,


How nice you are
How Cute you are
How your shadow closing my eyes
How your voice closing my ear
How your heart closing my mind




So I create the poem in my heart
The poem that created by rhyme of love
The poem that wrote by the tears of happiness
And the poem that can only be understood by you


Love from the deepest heart :*


If ever you need me,
I'll be right here,
To chase away the sadness,
And wipe away a tear.

 

If ever you need me,
I'll be two steps behind,
To follow in your footsteps,
And hear what's on your mind.


If ever you need me,
You'll never have to fear,
That your presence isn't important,
And your love isn't dear.


If ever you need me,
I'll always be around,
To bring back the laughter,
Where deep in your heart it's found.

You'll never have to worry,
For I'll always be here,
To chase away the sadness,
And wipe away a tear.

I am here for you!

Selasa, 31 Mei 2011


Satu Juni sebelum pagi
langit ditenangkan
oleh kelelahan kita
damainya menyadarkanku
bahwa langit meminta catatan
tentang siapa aku
saat matahari diterbitkan
ah… matahari esok pagi
masih ditenangkan
masih oleh kelelahan kita

Sabtu, 09 April 2011

Kali ini tidak ada cinta
Tidak ada lagi kasih dan sayang
Tidak ada lagi mimpi
Tidak ada lagi harapan
Kamu t’lah pergi
Tinggal kan mimpi dan asa
Hidup tak lagi bermakna
itulah jiwaku tanpa mu
aku tak percaya lagi
Untuk merajut kepingan hati
Aku harus terus melangkah
Tak akan terhenti tak akan menepi…
“Itulah aku”

Sabtu, 26 Februari 2011


Aku memilihmu…
Untuk menemani di kala siang tak bermentari
Saat malam tak berbintang
Agar dapat terangiku dengan senyuman

Aku memilihmu…
Saat terik sinar menyengat dan membakar
Ketika bulan sabit atau purnama
Untuk temaniku menyusuri dunia

Aku memilihmu…
Dengan hati yang tak memilih waktu
Sepenuh cinta tanpa masa
Semenjak harap masih mendengung hampa

Puisi… kutulis dan kurangkai
Saat inspirasi dan sebentuk emosi
Menggerakkan otak dan jemari
Memilih diksi mencari analogi

Meski bukan penyair ku tetap bersyair
Meski bukan pujangga tetap kubersuara
Tak pernah peduli apa mereka bilang
Syair dan Puisi bagiku kebebasan

Puisi… kau caci dan kau puji
Sesuai batas mengarti dan imaji
Terimakasih… ku kan menulis lagi
Meski kosong puji dan caci


http://www.anggrekbiru.com/puisi.html

Minggu, 05 Desember 2010

Bumiku yang biru, kini menghitam
Di cabik, diinjak, di robek, di rampas, dan di rusak paksa oleh penghuninya
Bumiku yang biru, kini kelabu
Penghuninya tak perduli meski bumiku 'minta tolong'
Kepanasan, Kehausan, Sesak, Perih, Sedih, Menangis, Menjerit, Tersiksa
Kasihan bumiku . . .

Tuhan, lindungi bumiku ini
Karena hanya engkau yang maha mendengar
Penghuninya tak mau lagi mendengar tangisan bumiku
Tuhan,hanya engkau harapanku
Kasihan Bumiku . .

Senin, 30 Agustus 2010


Rindu ini lama kudekap sendiri
Kusekap di sudut sepi..
But somehow it just flew away
Just to find its own way..

Jika rindu ini
tiba di serambi hatimu
Perkenanlah ia menyusup
ke dalam ruang sisi batinmu..

Semoga Sang Rindu menjumpai
rumah yang selama ini tak teralamatkan..
Saat terpaku oleh hingar bingar
Terseret nikmatnya arus jasadiyah
Ada rasa ingin menjauhi-Mu
Hadir jenuh melayani-Mu
Betapa hina jiwa ini, Rabb..

Namun saat lemah dan tanpa upaya
Kala diri berada jauh di bawah titik 0
Benak ini mencari sosok-Mu
Mengejar kekuasaan-Mu
Mengintai seluruh sudut ciptaan-Mu..

Wahai Rabb Yang Maha Mengetahui Isi Hati
Sungguh diri ini amat kerdil
Saat berpikir akan sanggup hidup tanpa sentuhan-Mu
Ternyata aku ini kecil, lemah dan rapuh
Begitu ringkih hingga lafadzku berharap
Agar Kau tak menghapusku dari pandangan-Mu..

Kamis, 22 April 2010

KUMPULAN PUISI


HinggaHingga detik ini
Hingga hari ini
Hingga bulan ini bahkan
Aku masih menyayangimu
Aku masih mencintaimu
Aku masih menyukaimu
Walaupun..
Waktu telah berlalu begitu lamanya
dan aku tlah dimiliki orang lain

Tapi cintaku..
Cintaku untukmu takkan pernah lekang oleh waktu
Cintaku takkan kubri untuk orang lain slain dirimu
Cintaku abadi hanya untuk dirimu
Cintaku bukanlah ia yang memiliki
Karena..Hanya kau yg ada dihati ini
Hanya namamu yg sudah terukir abadi
Hanya dirimu yg sanggup menenangkan hati yg galau ini
Hanya kau..tak ada lagi yang lain



Aku, Wajah Gelap Masa Lalumu....
aku adalah wajah gelap masa lalumu
yang takkan lepasakanmu begitu saja
meski harusku manahan
siksa perasaanku sendiri...

aku sperti batu yang tak pernah bisa mengerti
betapa engkau kini tlah bosan
hadapi aku yag tak pernah bisa pahami
arti perasaaanmu....

aku dan kisah kelabuku denganmu
biarlah hanya aku yang tahu & mengerti
karena aku yang pernah menyakiti......

aqu, wajah gelap masa lalumu...........


INI SAJA
menangislah...
semoga basah air mata
sederas hujan tadi malam
ketika kita membasuh luka dengan terbata
di bawah gigil dedaunan
larutkan saja..
larutkan kesedihan kita
dukamu akan luka ku

aku hendak berkemas
menuju jauh pengembaraan
patahan doa yang bermalam engkau jejalkan
rasanya cukup untuk kuhirup sebagai bekal
meski aku belum lagi mengerti
securam apa pendakian harus kulalui

aku tak ingin menyerah
tak hendak mengaku kalah
ini jelma pemahaman
akan akhir perjalanan

tentu perempuanku
tentu aku rindu
pada tasbih yang terlafadzkan
pada ayat-ayat yang terlantunkan
pada sujud yang tak letih kita lengkungkan

semuda ini kebersamaan
itu saja yang aku ratapi
betapa pada berpuluh malam
kerap nafasmu terabaikan
kini..ketika takdir tak lagi banyak memberi waktu
tak ada lagi sisa mimpi
untuk kurupa sebagai janji

aku menuju hilang
tak ada yang bisa ku wariskan
selain kenang tak sempurna
akan malam-malam sederhana

_hiawata_

Sabtu, 07 November 2009

Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu....
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja...
Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk...

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya.....

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku
tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-
waktu untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.

Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin
engkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah..... engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu...

Tapi yang Kutunggu ... ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih tidak mempedulikan Aku.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU....

Apakah salahKu padamu ...? Rezeki yang Kulimpahkan,
kesihatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukurniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu ... Kembali kepadaKu.

Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu....

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!