Sabtu, 03 Oktober 2009

Jika kau takjub pada cinta yang membuat waktu begitu mudah berlalu, mengapa harus mengecam waktu yang semudah itu juga membuat cinta pergi?

CINTA bukan saling menatap mata, tetapi memandang ke titik yang sama; aktivitas yang tak selalu membuat betah kalau untuk waktu yang lama. Setiap orang punya jalan masing-masing menuju bahagia, dan jika kau punya jalan lain ke sana, tak serta merta aku boleh menuduhmu telah tersesat. Juga bila aku tidak mencintaimu dengan cara yang kau inginkan, kau tak bisa menyimpulkan bahwa aku tidak mencintaimu dengan segala yang kupunya.

Hidup selalu saja pilihan-pilihan yang harus dibuat.
(1) Orang yang mencari kebahagiaan di luar rumahnya, hanya akan menemukan kehampaan, atau
(2) rumah bukanlah di mana kau tinggal, tetapi di mana kau dimengerti. Jadi, kapan kau sebenarnya berada jauh dari rumah, kapan pula kau berada begitu dekat dengan kebahagiaan?

*****

Untuk mencuri hati, kau hanya perlu tau apa yang membuatnya tertawa, tetapi untuk mempertahankannya, kau harus mengerti apa yang akan membuatnya menangis. Menyayangi dan menguasai, alangkah tipis kadang bedanya. Bukankah cinta adalah pembiaran… agar dia tumbuh menjadi dirinya yang sempurna, bukan merentang kempiskannya hingga pas dengan bingkai fantasimu. Karena jika begitu, kau hanya mencintai dirimu sendiri yang memantul dalam dirinya.

Tapi mengapa kau tampak begitu kehilangan, kalau yang hilang itu “hanya” sebuah cermin? Well, anything you lose automatically doubles in value, tapi bukankah ada cara yang paling mudah untuk menemukan barang yang hilang, dengan menggantinya? Toh hanya cermin!

*****

Kukembalikan titahmu. Sejak hari pertama, sudah kau miliki semua bahan untuk menyajikan asupan untuk jiwamu yang bahagia. Jangan mencari lagi. Kita selalu saja lupa, kebahagiaan bukanlah mendapatkan apa yang sebelumnya tak kita punya, tetapi menyadari dan menghargai apa yang sudah ada. Sederhana? Itulah masalahnya, kita selalu lupa kebenaran yang sederhana, padahal semua kebenaran sederhana.

Kapan kau bahagia jika selalu saja kau bertanya apa yang akan membuatmu bahagia. Kapan kau benar-benar hidup bila pikiranmu terus kau gunakan untuk mencari makna hidup. We are no longer happy so soon as we wish to be happier, kata orang.

Aku tidak mengatakan cinta itu racun, cuma air laut, yang semakin banyak kau mereguknya, semakin dahaga kau dibuatnya.

http://nesia.wordpress.com/2007/12/03/seperti-air-laut-semakin-kau-reguk-cinta-semakin-kau-dahaga-dibuatnya/

Categories: , , ,

0 comments:

Posting Komentar

Feel Free to Comment this post

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!